Bogor, JurnalUpdate.id — Duduk dengan earphone terpasang, musik mengalun pelan, dan buku terbuka di depan—pemandangan ini sudah sangat akrab di kalangan mahasiswa. Belajar terasa lebih nyaman, tidak terlalu sepi, bahkan kadang lebih menyenangkan. Namun di balik kenyamanan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah musik benar-benar membantu fokus, atau justru diam-diam menjadi distraksi?
Fenomena ini turut menjadi perhatian kalangan akademisi, termasuk Hanasya Zahra Mukhbita, mahasiswa Pendidikan Biologi Semester 4 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan. Ia menyoroti bahwa kebiasaan belajar sambil mendengarkan musik kini semakin umum di kalangan mahasiswa.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa musik memang memiliki pengaruh terhadap konsentrasi belajar. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JPTAM (2023) menyebutkan bahwa musik dengan tempo tenang dapat menciptakan suasana rileks, sehingga memudahkan mahasiswa untuk fokus. Selain itu, musik juga diketahui mampu menurunkan tingkat stres dan membuat proses belajar terasa lebih santai.
Namun, efek tersebut tidak selalu berlaku dalam semua kondisi. Pengaruh musik sangat bergantung pada jenis lagu, suasana lingkungan, serta kebiasaan individu. Musik yang tepat bisa membantu menjaga fokus, tetapi jika tidak sesuai justru berpotensi mengganggu konsentrasi tanpa disadari.
Dalam praktiknya, banyak mahasiswa menjadikan musik sebagai “teman belajar” untuk menghindari rasa bosan dan kantuk. Beberapa bahkan merasa lebih mudah memulai aktivitas belajar dengan adanya musik di latar belakang. Akan tetapi, pengalaman ini tidak selalu konsisten. Musik cenderung membantu saat mengerjakan tugas ringan seperti mencatat atau merangkum, tetapi mulai terasa mengganggu ketika dihadapkan pada materi yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti memahami konsep atau menghafal.
Gangguan ini kerap muncul secara perlahan. Musik, terutama yang memiliki lirik atau tempo cepat, dapat membagi perhatian antara materi dan lagu. Tanpa disadari, mahasiswa bisa ikut bernyanyi atau larut dalam suasana musik, sehingga fokus belajar terpecah. Penelitian PARS (2022) juga mengungkapkan bahwa musik berlirik lebih mudah mengalihkan perhatian dibandingkan musik instrumental.
Jenis musik pun berperan penting. Musik santai atau instrumental cenderung lebih mendukung konsentrasi, sementara musik dengan tempo cepat seperti rock atau musik “jedag-jedug” lebih berpotensi mengganggu. Selain itu, kondisi lingkungan juga memengaruhi. Di tempat ramai, musik sering dimanfaatkan untuk meredam gangguan suara sekitar. Namun di suasana yang sudah tenang, belajar tanpa musik justru dinilai lebih efektif.
Penggunaan earphone menjadi pilihan utama karena praktis dan tidak mengganggu orang lain. Durasi pemakaian pun bervariasi, mulai dari 30 menit hingga 3–4 jam. Meski demikian, penggunaan dalam waktu lama dapat menimbulkan ketidaknyamanan, seperti telinga lelah atau sakit. Bahkan, sebagian mahasiswa mengaku justru lebih cepat lelah dan sulit mempertahankan fokus setelah mendengarkan musik terlalu lama.
Menurut World Health Organization (WHO), mendengarkan musik dengan volume sekitar 80 desibel masih tergolong aman dalam batas tertentu. Namun, semakin tinggi volumenya, semakin singkat pula durasi aman untuk mendengarkan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga volume tetap rendah dan membatasi waktu penggunaan.
Kebiasaan belajar sambil mendengarkan musik juga erat kaitannya dengan gaya belajar masing-masing individu. Ada yang merasa lebih fokus dengan adanya suara latar, sementara yang lain membutuhkan suasana benar-benar hening. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang.
Dari berbagai temuan, dapat disimpulkan bahwa musik memang memberikan kenyamanan saat belajar, tetapi tidak selalu sejalan dengan peningkatan fokus. Jika tidak digunakan secara bijak, musik justru dapat menjadi distraksi yang tersembunyi. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mengatur jenis musik, volume, serta durasi penggunaan agar tetap mendukung proses belajar tanpa mengorbankan konsentrasi.
Pada akhirnya, kenyamanan dalam belajar memang penting, tetapi tidak boleh mengalahkan tujuan utama: memahami materi dengan baik dan menjaga fokus secara optimal.
Penulis : Hanasya Zahra Mukhbita merupakan mahasiswa Pendidikan Biologi Semester 4, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pakuan.
(Sje/Red)












