BOGOR, JurnalUpdate.id – Sebanyak 187 spesies ikan endemik yang pernah menghuni Sungai Ciliwung kini terancam punah. Fakta tersebut terungkap berdasarkan hasil penelitian yang diperbarui pada 1 Juni 2026 dan menunjukkan kondisi ekosistem Sungai Ciliwung yang semakin memprihatinkan.
Peneliti spesies ikan endemik Sungai Ciliwung, Ikbal Mujadid, mengungkapkan bahwa hasil observasi terbaru membuktikan telah terjadi penurunan drastis populasi ikan endemik sejak tahun 2011 hingga saat ini.
“Keberadaannya nyaris punah,” ujar Ikbal saat menyampaikan hasil penelitiannya, Selasa (2/6/2026).
Menurut Ikbal, berdasarkan catatan Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1910 yang tersimpan dalam arsip Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tercatat terdapat 187 spesies ikan endemik di Sungai Ciliwung.
“Data tersebut merupakan hasil observasi para peneliti Belanda pada masa itu,” katanya.
Namun ketika BRIN melakukan pendataan ulang pada tahun 2010–2011, jumlah spesies ikan endemik mengalami penyusutan sangat signifikan. Dari 187 spesies yang tercatat pada awal abad ke-20, hanya tersisa sekitar 15 spesies.
“Artinya terjadi kehilangan hingga sekitar 92 persen. Keseimbangan alam di Sungai Ciliwung mengalami degradasi yang sangat serius,” jelas Ikbal.
Meski demikian, upaya penelitian dan konservasi yang dilakukan akademisi, Komunitas Ciliwung, serta para pegiat lingkungan pada periode 2017–2018 dari Titik Nol Hulu Ciliwung hingga wilayah hilir berhasil menemukan kembali beberapa spesies yang sebelumnya dinyatakan hilang. Hasilnya, jumlah spesies yang teridentifikasi meningkat dari 15 menjadi 27 spesies.
“Ini menunjukkan bahwa laju kehilangan spesies yang sebelumnya mencapai 92 persen dapat ditekan menjadi sekitar 86 persen,” ujarnya.
Ikbal menjelaskan, berbagai faktor menjadi penyebab utama kelangkaan ikan endemik di Sungai Ciliwung. Di antaranya pencemaran lingkungan, aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan, penggunaan racun dan setrum untuk menangkap ikan, penggunaan alat tangkap yang merusak, alih fungsi lahan, hingga pembangunan turap beton yang menghilangkan habitat alami ikan di sepanjang sempadan sungai.
Selain itu, keberadaan spesies ikan asing atau invasif juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup ikan-ikan endemik.
“Yang masih mampu bertahan saat ini hanya sekitar 27 jenis ikan endemik. Sementara spesies asing semakin mendominasi dan bersifat invasif. Tercatat sejak tahun 2003 hingga 2024 jumlah spesies asing meningkat hingga 100 persen,” ungkapnya.
Beberapa spesies asing yang kini banyak ditemukan di Sungai Ciliwung antara lain ikan nila, cere, lele, sapu-sapu, ikan mas, serta berbagai jenis ikan hias yang menjadi kompetitor dalam memperebutkan makanan, ruang hidup, dan lokasi berkembang biak.
Penelitian lanjutan kembali dilakukan pada periode 2023–2024 dan berlanjut pada 2026–2027 untuk memperbarui data kondisi terkini Sungai Ciliwung dari hulu hingga hilir.
“Kami kembali mengeksplorasi kondisi Sungai Ciliwung secara menyeluruh. Penelitian ini melibatkan Nur Sarifah Ainy, Sri Rahayu Pudjiastuti, Nestianto Hadi, pegiat konservasi FK3I, serta kreator Sapu-sapu Arif Kamarudin,” terangnya.
Dalam penelitian tersebut, tim juga melakukan observasi terhadap kemampuan bertahan hidup sejumlah ikan endemik yang dipelihara di laboratorium, di antaranya ikan Senggal (Hemibagrus planiceps), Kehkel (Glyptothorax platypogon), Bogo (Channa limbata), Benteur (Barbodes binotatus), Sili Batik (Macrognathus maculatus), Payar (Rasbora aprotaenia), Jeler (Nemacheilus fasciatus), dan Soro atau Ikan Dewa (Neolissochilus soro).
Ibal berharap pemerintah, komunitas lingkungan, dan masyarakat dapat bersinergi untuk menyelamatkan spesies ikan endemik Sungai Ciliwung yang tersisa.
“Solusi sederhana yang bisa dilakukan adalah mengurangi populasi ikan invasif melalui penangkapan atau pemancingan secara terukur, sehingga ikan-ikan endemik memiliki ruang hidup yang lebih baik dan peluang berkembang biak yang lebih besar,” pungkasnya. (SJE)












