BOGOR, JurnalUpdate.id — Temuan yang diduga berupa belatung dalam makanan program pemenuhan gizi untuk anak sekolah di wilayah Desa Tugu Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, memantik perhatian publik.
Sabtu (15/8/2026), Aktivis Pemuda Bogor, Muhammad Azrin, mendesak Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Cigombong untuk tidak menganggap persoalan tersebut sebagai masalah sepele. Ia meminta operasional Dapur SPPG Tugu Jaya segera dihentikan sementara (suspend) sampai dilakukan pemeriksaan menyeluruh dan dipastikan memenuhi standar keamanan pangan.
Azrin menilai, apabila laporan mengenai makanan yang diduga mengandung belatung tersebut terbukti, persoalannya bukan lagi sekadar kesalahan teknis dapur, melainkan menyangkut keselamatan dan kesehatan anak-anak yang menjadi penerima manfaat program pemerintah.
“Ini bukan persoalan sepele. Kalau benar ada belatung ditemukan dalam makanan anak-anak, pertanyaannya sederhana: di mana pengawasan dan quality control-nya? Jangan sampai anak-anak menjadi korban dari lemahnya pengawasan,” tegas Azrin.»
Menurutnya, program pemenuhan gizi yang dibiayai negara semestinya memberikan makanan yang aman, higienis, bergizi, dan memenuhi standar keamanan pangan. Jangan sampai program yang seharusnya memberikan manfaat justru menimbulkan keresahan bagi orang tua dan masyarakat.
“Kalau makanan yang diberikan kepada anak saja tidak mampu dijamin kebersihannya, untuk apa pengawasan dilakukan? Jangan tunggu ada anak yang jatuh sakit baru semua pihak bergerak,” ujarnya.»
Azrin meminta Koordinator SPPG Kecamatan Cigombong melakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap Dapur SPPG Tugu Jaya, mulai dari pengadaan bahan baku, penyimpanan, proses pengolahan, pengemasan hingga pendistribusian makanan kepada penerima manfaat.
Ia juga mendesak agar sampel makanan yang dilaporkan bermasalah diperiksa secara objektif melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, hasil pemeriksaan perlu disampaikan secara transparan agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas.
“Jangan hanya sibuk membuat klarifikasi. Periksa dapurnya, periksa makanannya, periksa prosesnya dan periksa siapa yang bertanggung jawab. Kalau memang ada pelanggaran, berikan sanksi. Jangan ada pembiaran,” kata Azrin.»
Ia menegaskan, penghentian sementara operasional dapur merupakan langkah kehati-hatian sampai seluruh aspek keamanan, kebersihan, dan kelayakan makanan dinyatakan memenuhi ketentuan.
“Kami mendesak suspend sekarang, bukan nanti setelah muncul korban. Keselamatan anak-anak jauh lebih penting daripada mempertahankan operasional dapur yang sedang dipersoalkan,” tegasnya.»
Azrin juga mengingatkan pengelola SPPG agar tidak mengabaikan laporan masyarakat. Menurutnya, persoalan kualitas makanan dapat berdampak langsung terhadap kepercayaan publik terhadap program pemerintah, terutama ketika penerima manfaatnya adalah anak-anak sekolah.
Jika tuntutan tersebut tidak segera mendapat respons, Azrin menyatakan elemen pemuda dan masyarakat Cigombong siap membawa persoalan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi, termasuk menyampaikan pengaduan secara resmi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan instansi terkait.
“Jangan sampai masyarakat dipaksa diam ketika menyangkut makanan anak-anak. Kami akan kawal persoalan ini sampai ada kejelasan dan pertanggungjawaban,” pungkasnya.»
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola Dapur SPPG Tugu Jaya maupun Koordinator SPPG Kecamatan Cigombong belum memberikan keterangan resmi terkait laporan makanan yang diduga tidak layak konsumsi dan temuan belatung tersebut.
JurnalUpdate.id akan terus mengawal perkembangan persoalan ini dan memberikan ruang yang berimbang kepada pihak pengelola maupun instansi terkait untuk menyampaikan klarifikasi dan penjelasan resmi.
(Red)












