Dinsos Jabar Gebrak Dunia Difabel, Vocoda AI Resmi Diperkenalkan di Unpar: Buka Jalan Tunarungu Menuju Kemandirian

banner 468x60

BANDUNG, JurnalUpdate.id — Terobosan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai membuka jalan baru bagi penyandang difabel rungu wicara di Jawa Barat. Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat melalui UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Cimahi berkolaborasi dengan Vocoda AI Indonesia (CV Anyatha Indonesia) dan Koperasi Kopi Mitra Malabar resmi meluncurkan Vocoda AI, alat bantu sensorik rungu wicara berbasis kecerdasan buatan, di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Rabu (2/9/2026).

Example 300x600

Perkenalan tersebut menjadi momentum penting dalam mendorong terciptanya ruang komunikasi yang lebih inklusif bagi penyandang difabel rungu wicara. Teknologi ini diharapkan bukan hanya membantu komunikasi, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri, kemandirian, serta membuka akses yang lebih luas terhadap dunia pendidikan, sosial, dan pekerjaan.

 

Yang menarik, perkenalan Vocoda AI tidak berhenti pada seremoni. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pembukaan stan kafe kopi yang dikelola langsung oleh penyandang difabel rungu wicara.

 

Dua barista binaan, Siti asal Garut dan Putri asal Cimahi, secara langsung melayani para pengunjung. Keduanya sekaligus memperagakan bagaimana teknologi Vocoda AI digunakan untuk membantu komunikasi dengan masyarakat umum.

 

Teknologi Jadi Jembatan Kesetaraan

 

Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Dinas Sosial Jawa Barat, Andina Rahayu, mengatakan kehadiran Vocoda AI diharapkan mampu memperluas ruang partisipasi penyandang difabel dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Menurutnya, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong penyandang difabel rungu wicara agar semakin percaya diri dan mandiri.

 

«“Semoga alat bantu ini dapat membantu teman-teman difabel rungu wicara berkomunikasi lebih baik, meningkatkan kemandirian, serta membuka peluang yang lebih besar untuk berkarya dan bekerja,” ujarnya.»

 

Bagi Dinsos Jawa Barat, pemanfaatan teknologi semacam ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan sosial yang tidak hanya bersifat pendampingan, tetapi juga mendorong pemberdayaan dan kemandirian.

 

Bukan Sekadar AI, tetapi Membangun Kepercayaan Diri

 

Direktur CV Anyatha Indonesia (Vocoda AI Indonesia), Jusi Kantahuri, menegaskan bahwa Vocoda AI dikembangkan bukan sekadar untuk mengejar kecanggihan teknologi.

 

Lebih jauh, teknologi tersebut dirancang sebagai sarana untuk membantu penyandang difabel rungu wicara membangun kepercayaan diri dan berinteraksi secara lebih luas di tengah masyarakat.

 

«“Harapan kami, teman-teman difabel dapat bertindak secara mandiri dengan menggunakan aplikasi yang memang kami khususkan untuk membantu mereka berkomunikasi. Kami ingin mereka lebih percaya diri, tidak merasa termarginalkan, dan bisa bergaul di tengah masyarakat seperti masyarakat pada umumnya,” kata Jusi.»

 

Menurut Jusi, pengalaman selama dua hari membuka stan kopi di lingkungan Unpar menjadi bukti bahwa penyandang difabel rungu wicara mampu memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan baik.

 

Tidak hanya menjalankan tugas sebagai barista, Siti dan Putri juga berinteraksi dengan mahasiswa, dosen, maupun karyawan kampus dengan memanfaatkan dukungan teknologi Vocoda AI.

 

«“Kami berbahagia melihat mereka menemukan kepercayaan dirinya. Mereka mampu melayani pelanggan sambil memperkenalkan Vocoda AI kepada masyarakat,” tuturnya.»

 

AI Bantu Komunikasi Dua Arah

 

Jusi menjelaskan, Vocoda AI masih terus dikembangkan karena memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Salah satu kemampuan yang diunggulkan adalah membantu pengguna menyusun kalimat dengan struktur bahasa yang lebih baik.

 

«“AI membantu mereka menyusun kalimat dengan pola subjek, predikat, objek, dan keterangan yang lebih tepat. Ini penting karena sebagian besar penyandang rungu wicara tidak terbiasa mendengar susunan kalimat secara utuh,” ujarnya.»

 

Sementara itu, penasihat Vocoda AI Indonesia, John de Jong, diaspora Indonesia yang menetap di Belanda sejak 1966, mengungkapkan bahwa gagasan pengembangan aplikasi tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap masih terbatasnya kesempatan kerja bagi penyandang tunarungu di Indonesia.

 

John kemudian menjalin komunikasi dengan pengembang aplikasi di Belanda dan menggagas proyek percontohan bersama Dinas Sosial Jawa Barat.

 

«“Kami memilih pendekatan dari bawah atau bottom-up melalui proyek nyata. Kami melatih enam penyandang tunarungu menggunakan aplikasi ini dan membekali mereka keterampilan sebagai barista agar lebih cepat mendapatkan kesempatan kerja,” katanya.»

 

Menurut John, pengembangan Vocoda AI dilandasi semangat sosial dan tidak semata-mata berorientasi komersial. Pendanaan awal proyek tersebut berasal dari kontribusi pribadi tim yang terlibat.

 

Secara teknis, Vocoda AI mampu membantu menerjemahkan suara menjadi teks maupun teks menjadi suara. Fitur tersebut memungkinkan komunikasi dua arah antara penyandang tunarungu dan masyarakat umum berlangsung lebih mudah.

 

«“Ketika pelanggan berbicara, aplikasi akan mengubah suara menjadi tulisan yang dapat dibaca oleh penyandang tunarungu. Sebaliknya, tulisan yang mereka buat dapat diterjemahkan menjadi suara. Di situlah manfaat utamanya,” jelas John.»

 

Dari Kampus, Menuju Jawa Barat yang Lebih Inklusif

 

Peluncuran Vocoda AI di Unpar menjadi langkah awal untuk memperkenalkan teknologi tersebut secara lebih luas di Jawa Barat.

 

Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku teknologi, koperasi, dan komunitas difabel memperlihatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan dapat diarahkan untuk menjawab persoalan sosial secara nyata.

 

Teknologi tidak lagi sekadar berbicara tentang mesin dan algoritma, tetapi juga bagaimana inovasi dapat menghadirkan kesempatan yang lebih setara bagi kelompok yang selama ini menghadapi hambatan komunikasi.

 

Vocoda AI diharapkan terus dikembangkan sesuai kebutuhan penyandang difabel rungu wicara dan dapat dimanfaatkan lebih luas, mulai dari komunikasi, pendidikan, pelayanan publik hingga akses terhadap dunia kerja.

 

Pada akhirnya, inovasi tersebut diharapkan bukan hanya menjadi alat bantu komunikasi, melainkan jembatan menuju kemandirian.

 

Sebab bagi penyandang difabel rungu wicara, kesempatan untuk berkomunikasi secara setara berarti membuka pintu yang lebih besar untuk belajar, bekerja, berkarya, dan menunjukkan bahwa keterbatasan komunikasi bukanlah batas untuk meraih masa depan.

 

(Red)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *